Trading balas dendam adalah pola emosional ketika trader mengambil risiko baru terutama untuk segera memulihkan kerugian terbaru. Frustrasi dapat menggantikan proses keputusan awal, sehingga posisi membesar, transaksi makin sering, atau aturan keluar diabaikan.
Kerugian sebelumnya memengaruhi keputusan berikutnya
Setelah posisi ditutup oleh stop-loss, trader mungkin menaikkan leverage agar keuntungan lebih besar memulihkan saldo. Namun, kerugian sebelumnya tidak membuat transaksi berikutnya lebih mungkin berhasil. Eksposur lebih besar dapat meningkatkan potensi keuntungan sekaligus kerugian lanjutan; transaksi tambahan juga menambah biaya.
Misalkan saldo turun dari 1.000 menjadi 800 unit tanpa setoran atau penarikan. Kerugiannya 20%; untuk kembali ke 1.000, sisa 800 harus tumbuh 25%, sebelum biaya tambahan. Perhitungan ini menjelaskan perubahan dasar saldo, bukan alasan menaikkan risiko.
Mengenali pola
Transaksi cepat setelah kerugian tidak otomatis termasuk trading balas dendam. Pertanyaan utamanya adalah apakah tekanan emosi menggantikan alasan dan batas risiko yang biasanya mengatur keputusan.
Batas yang ditetapkan sebelumnya, jeda, dan catatan keputusan dapat membantu mengenali perubahan ini. Semuanya tidak menjamin keuntungan atau membuat posisi yang tidak sesuai menjadi aman. Trading balas dendam adalah gambaran perilaku, bukan diagnosis klinis.